
PENGAJIAN SELAPANAN RABU PON MUSLIMAT NU RANTING PEKAUMAN
Hari Rabu (23/9) kemarin, Pengurus Muslimat NU Kelurahan Pekauman, Kendal kembali menggelar acara Pengajian Rutin Rabu pon di halaman Kantor Kelurahan Pekauman. Ya, acara tersebut merupakan acara rutin yang digelar pihak pengurus Muslimat NU Kecamatan setiap "selapan" sekali. Hadirinnya terdiri dari masyarakat dari 20 Kelurahan yang ada, dan sebagian masyarakat umum yang memang datang secara sukarela. Istilah “selapan” yang kemudian menjadi kata kerja “selapanan”, merupakan hitungan satu bulan berdasarkan hari dan tanggalan Jawa. Jumlah siklusnya akan berulang setiap 35 hari sekali. Seperti yang telah diketahui bahwa jumlah hari pasaran atau netu merupakan hitungan hari Suku Jawa. Perhitungannya berjumlah lima hari pasaran. Ada, Pahing, Pon, Wage Kliwon, dan Legi. Kiai-kiai NU khususnya yang berada di wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur, sering mengagendakan kegiatan keagamaan berdasar pada perhitungan hari tersebut. Misalnya, seperti Pengajian Rutin Kamis Kliwon, Maulid setiap Jumat Legi, Sima'atul Quran per Hari Senin Pahing, Pengajian Selapanan setiap Rabu Pon dan lain sebagainya. Dalam sambutannya sebagai Ketua Muslimat NU ranting Kelurahan Pekauman, Hj.Faizah, S.Sos. menjelaskan rahasia di balik tradisi yang telah berlangsung di kalangan ulama NU tersebut. "Kita menghadiri Pengajian Rutin Rabu Pon ini, (marilah) kita niati mengikuti apa yang diarahkan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam," tuturnya mengawali penjelasan.
Dalam kesempatan yang sama Plh. Lurah Pekauman, Nur Ali, SH. dalam sambutanya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi- tingginya kepada seluruh pengurus Ranting Pekauman yang menjadi tuan rumah pengajian selapanan PAC Muslimat. Mari kita sama-sama membesarkan Muslimat di wilayah Kecamatan Kendal Khususnya di Kelurahan Pekauman. diawali dari hal yang kecil seperti budaya hidup bersih di lingkungan kita masing- masing. dengan membuang sampah pada tempatnya, kita sudah mencontoh perilaku teladan Rosulullah dalam hal kebersihan.
Demikianlah, tradisi-tradisi yang hingga kini masih dilestarikan oleh Nahdliyin, masyarakat NU. Amaliah tersebut merupakan bentuk ikhtiar tokoh NU dalam ihya'us sunnah, menghidupkan ajaran Nabi, meski sebagian kecil orang kerap menuding sebagai hal yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi.
Dipost : 24 September 2026 | Dilihat : 7
Share :