SEJARAH MASJID AGUNG KENDAL
SEJARAH SINGKAT
MASJID AGUNG KENDAL
- Raden Joko Suwiryo/Pangeran Panggung ( adik seayah dari Raden Patah ) atau yang sekarang dikenal Wali Joko,dengan diantar oleh Syekh Ibrohim Asmoroqundi yang juga sebagai Guru dan pembimbing agamanya, dari Tuban menuju ke Demak, dan bertemu Raden Patah. Keinginannya bergabung dengan saudara tuanya bukan karena ingin menjadi prajurit atau pamong praja, tetapi ingin mendapatkan ketenangan batin dan memperdalam ilmu agama . Setelah menyampaikan niatnya di hadapan Kakaknya ( Raden Patah ), lalu sang Kakak menyuruhnya berguru dengan Kanjeng Sunan Kalijaga.
- Setelah nyantri kepada Kanjeng Sunan Kalijaga ( salah seorang Wali Songo ),nama pangeran panggung diberi laqob oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dengan nama Syekh Rofi’udin yang nama nya penegak syari’at agama islam.
- Setelah beberapa tahun nyantri pada Kanjeng Sunan Kalijaga dipandang ilmunya sudah mumpuni dan sudah mendapat pengakuan (wisuda) serta di ijinkan mengembangkan ilmu yang telah diperolehnya melalui dakwah. Syekh Rofi’udin ( Wali Joko ) bersama Sunan Katong (saudara kandungnya) di tugaskan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga berdakwah menyebarkan Agama Islam pada wilayah bagian barat Semarang. Sunan Katong di wilayah Kaliwungu dan Wali Joko ( Syekh Rofi’udin ) di wilayah kendal.
- Sesampainya di Kendal dan sebelum memulai berdakwah Syekh Rofi’udin ( Wali Joko ) mengawali dengan membangun tempat tinggal, menciptakan lingkungan yang teduh dan nyaman di sekitar rumah tempat tinggalnya. Sehingga diharapkan masyarakat atau para santri yang berkunjung di rumahnya merasa senang, nyaman dan kerasan.
- Setelah santri-santrinya bertambah banyak dan rumah pondokan yang relatif kecil serta sederhana tidak lagi mampu menampung para santri, satu-satunya jalan harus membangun masjid yang mampu menampung banyak santri. Maka di bangunlah masjid pada tahun 1493 M bertepatan dengan tanggal 17 Shofar 899 H, kala itu usia Wali Joko sekitar 30 tahun. Bangunan masjid yang pertama kali berukuran 27m x 27m = 729m2, terdiri 16 saka ( tiang ), atapnya bersusun 3 (tiga) dibuat dari sirap, lantai plester, tempat wudhu berupa kolah/kolam pendem yang mendapat aliran air sungai dari Kali Kendal yang di buat sendri oleh Wali Joko dari Kedung Pengilon Desa M Letak kolam itu di depan masjid sebelah selatan, utara rumah nya kediaman Wali Joko.
- Bangunan masjid pertama kali di bangun Wali Joko dengan ukuran 27m x 27m = 729 m2, terdiri dari 16 saka, atapnya bersusun 3 terbuat dari sirap, dan lantainya plaster itu sekarang menjadi Ruang Utama Masjid Agung Kendal.
- Ketika membangun mesjid ini, mendapat bantuan dari empat soko guru ( tiang utama) sesuai dengan hasil musyawarah waktu pendirian Masjid Agung Demak, yaitu masing - masing dari : a) Sunan Bonang,soko /tiang utama yang berada di sisi Barat Laut b)Sunan Gunungjati, soko/tiang utama yang berada di sisi Barat Daya. c)Sunan Kalijaga, soko/tiang utama yang berada di sisi Timur Laut. d) Sunan Ampel, soko/tiang utama yang berada di sisi Tenggara
Ke empat soko guru ( tiang utama ) tersebut , sampai sekarang masih dilestarikan dipasang di ruang utama Masjid Agung Kendal,sebagai bukti sejarah dan dalam rangka tabarrukan dari para auliya’. Juga ada pintu-pintu dan jendela kayu jati yang berukuran besar tetap terpasang dengan penambahan ornamen dan variasi serta penambahan pintu utama, jendela kaca dan perubahan bentuk kubah.
- Masjid Agung Kendal ini terlah mengalamai beberapa kali pemugaran atau renovasi di antara nya pada : sekitar tahun 1967 – 1970, tahun 1981 -1995 yang di resmikan oleh Gubernur Jawa Tengah H. Soewardi pada tanggal 24 April 1995, pembangunan Menara Masjid tahun 2004-2007, penyempurnaan dan penataan Menara Masjid tahun 2021, serta yang terahir renovasi Masjid Agung Kendal secara besar-besaran ,yang pelaksanaannya di mulai pada tanggal 24 Desember 2022, khusus Ruang Utama Masjid Agung Kendal selesai renovasinya pada akhir bulan Januari 2025 dan diresmiakan penggunaan nya pada tanggal 31 Januari 2025 oleh Bupati Kendal H. Dico M. Ganindito,B.Sc.,M.Sos.
- Renovasi ini dilakukan dengan menaikkan lantai dasar masjid agung kendal setinggi 165 cm, karena lantai dasar nya ( lantai serambi masjid ) sudah berada sekiar kurang lebih 20cm di bawah jalan raya, dan dirubah juga gaya arsitekturnya. (Arsitek adalah Sdr. Revanno dari Jakarta rekan Bp. Dico Ganinduto)
- Biaya yang diperlukan untuk melaksanakan Renovasi ini kurang lebih sekitar Rp. 60 milyar, yang bersumber dari : a. Bantuan hibah dari Pemkab Kendal tahun 2023 sebesar Rp. 20 milyar
b.Yayasan Masjid Agung Kendal sebesar Rp.10.024.903.630,-;
c. Sumbangan infaq shodaqoh dari masyarakat secara tunai sebesar Rp.1.878.149.000,-;
d. Sumbangan infaq shodaqoh dari masyarakat berupa matrial senilai Rp. 2.361.212.100,
e. Hasil penjualan sisa material bongkaran yang tidak bisa dimanfaatkan lagi sebesar Rp.807.613.500,-
f. Bantuan alat berat senilai Rp.146.250.000,-
Jumlah biaya Renovasi yang sudah terserap sampai saat ini sebesar Rp.35.218.128.230,-
g.Direncanakan bantuan Hibah dari Pemkab Kendal tahun 2025 sebesar Rp.10 milyar
Kendal ,31 Januari 2025
Dirangkum oleh
Ta’mir Masjid Agung Kendal
Drs. KH Asro’ie Thohir,M.Pd.I 

Dipost :
2025-02-06 15:20:08 | Dilihat : 581
Share :