Pekauman - Pendistribusian Makan Bergizi Gratis (MBG) Kelurahan Pekauman Kecamatan Kendal

Pendistribusian Makan Bergizi Gratis (MBG) Kelurahan Pekauman Kecamatan Kendal

Pendistribusian Makan Bergizi Gratis (MBG) Kelurahan Pekauman Kecamatan Kendal

Pekauman, Selasa 27 Oktober 2026

Pendistribusian makan bergizi gratis (MBG) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kelompok yang dikenal sebagai sasaran 3B.

Petugas dari Direktorat Bina Institusi Masyarakat Pedesaan/Perkotaan Kemendukbangga/BKKBN menuturkan distribusi MBG di daerah dilakukan melalui posyandu dengan melibatkan kader kesehatan di tingkat desa / Kelurahan. Di Kelurahan Pekauman, Kecamatan Kendal, penyaluran MBG untuk sasaran 3B Distribusi masih dilakukan setiap hari, kecuali hari Minggu.

Menu makanan siap santap yang disediakan disesuaikan dengan kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Program ini, merupakan bagian dari pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 tentang pemenuhan gizi nasional. 

Penyaluran MBG di Kelurahan Pekauman dikoordinasikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bugangin bersama Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri dari bidan, kader keluarga berencana, dan kader PKK. Aula Kelurahan Pekauman ditetapkan sebagai titik distribusi, dengan jumlah penerima manfaat bumil 6, busui 7 dan balita 13 dengan total jumlah sekitar 26.

Sebagian besar penerima manfaat mengambil makanan secara mandiri di posyandu. Namun, bagi ibu hamil atau ibu menyusui yang terkendala ke aula Kelurahan Pekauman bisa diantar sampai ke rumah.

Distribusi MBG juga dilakukan dengan sistem wadah salin, yakni penerima membawa wadah dari rumah untuk diisi makanan dari ompreng SPPG. Cara ini dipilih untuk mencegah kehilangan perlengkapan distribusi.

Untuk proses pencatatan dilakukan secara manual dan digital. “Kader TPK diminta mengisi formulir evaluasi menu, menandatangani bukti penerimaan, serta melaporkan kehadiran sasaran melalui grup WhatsApp yang digunakan sebagai sarana koordinasi harian. Setiap kendala distribusi juga dilaporkan melalui kanal komunikasi tersebut.

Dari sisi penerimaan masyarakat, sebagian besar ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga balita menyambut positif program ini. “Seorang kader menyebutkan bahwa banyak penerima manfaat merasa terbantu karena kebutuhan gizi mereka lebih terjamin,” kata budhe Solechah warga Gg.Hemat.

Meski begitu, sejumlah keluhan juga muncul, mulai dari menu yang dinilai monoton, rasa makanan yang terlalu pedas untuk balita, hingga porsi yang dianggap belum sesuai kebutuhan.

Tantangan lain yang muncul adalah potensi sisa makanan atau food waste. “Beberapa paket MBG tidak tersalurkan karena penerima tidak hadir atau datang terlambat. Dalam kondisi tertentu, makanan terpaksa dibuang karena sudah tidak layak konsumsi saat ompreng dijemput kembali oleh SPPG.

Selain itu, kader pendamping menghadapi peningkatan beban kerja. Mereka harus menunggu penerima manfaat di posyandu sejak pagi hingga siang hari, sekaligus melakukan pencatatan dan pelaporan harian. Dia menilai, apresiasi dan kebutuhan pelatihan komunikasi masih minim sehingga ini menjadi catatan dalam pelaksanaan program MBG.

  

  

  

  

 

 

 

 

 


Dipost : 27 Oktober 2026 | Dilihat : 13

Share :