Distribusi MBG juga dilakukan dengan sistem wadah salin, yakni penerima membawa wadah dari rumah untuk diisi makanan dari ompreng SPPG. Cara ini dipilih untuk mencegah kehilangan perlengkapan distribusi.
Untuk proses pencatatan dilakukan secara manual dan digital. “Kader TPK diminta mengisi formulir evaluasi menu, menandatangani bukti penerimaan, serta melaporkan kehadiran sasaran melalui grup WhatsApp yang digunakan sebagai sarana koordinasi harian. Setiap kendala distribusi juga dilaporkan melalui kanal komunikasi tersebut.
Dari sisi penerimaan masyarakat, sebagian besar ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga balita menyambut positif program ini. “Seorang kader menyebutkan bahwa banyak penerima manfaat merasa terbantu karena kebutuhan gizi mereka lebih terjamin,” kata budhe Solechah warga Gg.Hemat.
Meski begitu, sejumlah keluhan juga muncul, mulai dari menu yang dinilai monoton, rasa makanan yang terlalu pedas untuk balita, hingga porsi yang dianggap belum sesuai kebutuhan.
Tantangan lain yang muncul adalah potensi sisa makanan atau food waste. “Beberapa paket MBG tidak tersalurkan karena penerima tidak hadir atau datang terlambat. Dalam kondisi tertentu, makanan terpaksa dibuang karena sudah tidak layak konsumsi saat ompreng dijemput kembali oleh SPPG.
Selain itu, kader pendamping menghadapi peningkatan beban kerja. Mereka harus menunggu penerima manfaat di posyandu sejak pagi hingga siang hari, sekaligus melakukan pencatatan dan pelaporan harian. Dia menilai, apresiasi dan kebutuhan pelatihan komunikasi masih minim sehingga ini menjadi catatan dalam pelaksanaan program MBG.












